CERPEN PKBN2K

TWINS EARTHQUAKE

 

Bau Avtur dan kabin pesawat menyesak rongga dadaku dan kepalaku sakit melihat penumpang yang sibuk memasukkan bagasi dan mencari-cari tempat duduk. Kuhempaskan tubuhku kebangku pesawat lalu membuka HP untuk melanjutkan mobile legend yang sedang kumainkan diruang tunggu tadi. Seketika sakit kepalaku dan chaos disekitarku lenyap ditelan mobile legend and thanks to the creator of this game, it’s really helps me in the worst path of my life.

“Permisi, maaf gadgetnya di-off-in dulu, ya!” Seorang pramugari dengan senyumnya yang manis mengalihkan perhatianku, “Kita akan segera take off.”

Aku mengangguk sambil membalas senyumannya yang manis walau dalam hatiku mengumpat, “Bentar napa? Lagi nanggung nih,” batinku sambil mematikan gadgetku.

Sakit kepala kembali menyeruak, kupejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Dua jam penerbangan Jakarta-Lombok, waktu yang cukup untuk istirahat setelah malam kemarin aku tak dapat tidur karena memikirkan perjalanan ini. Berat rasanya untuk kembali ke kota kelahiranku setelah satu tahun aku mengungsi ke Jakarta akibat gempa yang berkepanjangan di Lombok. Masih terngiang video call terakhir dengan papa tadi malam ketika aku mengakui ketakutanku naik pesawat setelah gempa kemarin.

“Namamu Erland, dalam bahasa Jerman artinya Rajawali perkasa.”

“Tapi pa…”

“Kamu harus taklukkan ketakutanmu. Rajawali itu raja diangkasa, nggak mungkin takut terbang.”

“Aku bukan Rajawali pa, aku manusia biasa,” protesku.

“Papa yakin kamu adalah Rajawali papa, kamu pasti kuat dan bisa,” papa kembali meyakinkanku.

Dan seperti biasa disetiap perdebatan papa pasti jadi pemenangnya karena papa selalu punya cara untuk meyakinkan dan memaksaku.

Pesawat mulai lepas landas, meninggalkan daratan menuju langit biru yang cerah. Thank God udara pagi ini cerah, langit biru dan awan putih tipis menyambutku di angkasa. Kupejamkan mata dan teringat lagi kata-kata papa, namaku Erland artinya Rajawali perkasa. Kubayangkan diriku bagai Rajawali yang gagah perkasa terbang membelah awan merentang badai. Ah… ada rasa lega dan bahagia yang mengalir, mengajak hatiku bernyanyi, “Ku kan terbang tinggi, bagai Rajawali….”

Goncangan pesawat membuyarkan lamunanku, lampu tanda sabuk pengaman kembali dinyalakan. Seketika rasa dingin yang luar biasa merambat dan keringat dingin mengaliri tubuhku. Aku ingin berdiri dan berlari namun tubuhku tak dapat digerakkan, aku ingin berteriak, “Gempaaaaa… gempa… gempaaaa…,” namun lidahku kelu dan suaraku terbenam dalam kerongkonganku. Aku ingin menangis tapi air mata membeku di kelopak mataku. Aku membatu, perlahan-lahan kudengar suara, “dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku maka Aku akan mendengarkan kamu.”

“Oh Tuhan, tolooong! Aku takut… takut…. Kuatkan aku ….”

Bayangan gempa 7 SR tahun lalu di Lombok kembali menyeruak. Hari itu hari minggu setelah maghrib aku masuk ke kamarku untuk mempersiapkan pelajaran esok hari. Perlahan-lahan kudengar suara mama berteriak sambil menangis, papa juga berteriak tak kalah kerasnya. Entah apa yang mereka ributkan tapi belakangan, ini seperti menjadi tontonan wajib dirumah. Aku tak tau harus berbuat apa. Pernah aku mencoba untuk melerai mereka tapi akibatnya malah semakin parah dan aku semakin bingung kehabisan kata-kata. Akhirnya, aku masuk kamar dan membenamkan telingaku ke headset sambil memutar musik sekencang-kencangnya.

Tapi kali ini, tiba-tiba listrik padam dan kepalaku pusing, seolah semuanya bergoyang dan kegelapan menyelimutiku. Seketika aku tak menyadari apa yang terjadi sampai papa masuk ke kamarku, berteriak memanggil namaku lalu menarik aku lari keluar rumah. Di halaman rumah kulihat mama menangis lalu memelukku. Para tetangga juga berada di luar rumah, banyak yang menangis sambil berteriak, “Gempa! Gempa! Gempaaaa….”

Chaos, gelap, dan aroma ketakutan bertahta di gelapnya malam. Papa memeluk kami dengan erat, tak dapat kulihat raut wajahnya namun dapat kudengar degup jantungnya yang cepat dan suaranya yang lirih tak henti-hentinya mengucapkan doa. Ada takut yang luar biasa namun terselip rasa bahagia karena sudah lama rasanya aku tak merasakan kami sedekat ini. Sepanjang malam kami berpelukan dan berjaga di luar rumah karena gempa yang susul-menyusul.

Setelah malam itu kami mendirikan tenda di luar karena takut tidur di rumah. Gempa masih sering terjadi walau kecil dan semakin lama semakin jarang terjadi. Namun berbanding terbalik dengan papa dan mama. Awalnya mereka mulai berbaikan tapi seringkali hal-hal kecil membuat mereka ribut. Puncaknya malam itu, papa mama bertengkar kembali, mama menangis dan berteriak minta cerai dari papa. Paginya mama pergi dengan membawa koper. Aku berangkat ke sekolah dengan sedih dan kepalaku sakit rasanya. Entah kapan aku bisa bertemu mama lagi.

Aku menyayangi papa dan mamaku. Papa adalah idolaku, seorang pekerja sejati dan tidak banyak bicara. Papa merantau ke Mataram karena kuliah di Fakultas Hukum Universitas Mataram, namun ditengah jalan keluarga papa kekurangan dana sehingga ia harus mencari uang buat hidup. Apa saja dikerjakan papa, yang penting halal dan hasilnya sekarang papa mempunyai beberapa usaha, dari rental komputer, percetakan, kafe, travel, bahkan peternakan ayam dan lele. Prinsipnya papa ingin memberikan lapangan pekerjaan buat banyak orang karena ia pernah merasakan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Kalau libur, aku sering diajak papa mengontrol tempat-tempat usahanya. Aku kagum pada cara papa memperlakukan pekerjanya seperti teman, tapi pernah juga aku melihat papa marah jika karyawannya berbuat kesalahan.

Sementara mama seorang tenaga medis rumah sakit. Aku sering kesal pada mama karena banyak sekali aturan dan tak berhenti bicara sebelum aku mengerjakan perintahnya, Semuanya harus pada tempatnya, rapi, dan bersih. Ini seringkali menjadi pemicu pertengkaran mereka. Seringkali papa mengatakan bahwa rumah ini bukan rumah sakit dan kami bukan pasien yang harus didikte mama. Namun mama tidak terima karena menurutnya hal itu benar.

Aku tak paham dengan kedua orang tuaku, keduanya benar dan aku sayang mereka. Aku tak dapat membayangkan kalau papa mama bercerai. Sebenarnya aku kurang paham arti bercerai, yang sering aku lihat di infotainment ketika artis-artis bercerai pasti ribut dan heboh. Aku takut, bingung, dan kepalaku sakit rasanya. Sepanjang hari ini tak satupun pelajaran yang dapat kuikuti. Makin siang sakit kepalaku semakin menjadi-jadi dan tiba-tiba aku merasakan goncangan yang luar biasa. Sejenak kupikir karena kepalaku yang sakit, namun ketika teman-temanku berhamburan keluar kelas sambil berteriak dan menangis, baru aku sadar, gempa. Kali ini goncangannya lebih kuat dari sebelumnya dan terasa lebih lama. Kami dikumpulkan di lapangan sekolah sampai orang tua menjemput.

Ketika papa menjemputku, dia berlari memelukku sangat erat, wajahnya sayu dan lelah. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya ketika kami masuk ke dalam mobil selama perjalanan pulang ke rumah. Sesekali ia mendesah lalu membelai kepalaku, entah apa yang ada di dalam pikirannya tapi sepertinya papa sangat sedih. Tiba di rumah kulihat mama sudah menunggu kami. Aku senang sekali, bergegas aku turun dari mobil dan memeluk mama. Kami makan siang bersama tanpa banyak bicara tapi itu membuatku senang, karena papa mama ada di rumah. Seketika drama perceraian menjadi hoax dalam kamus keluarga kami.

Masih ada beberapa kali gempa kecil lainnya tapi tak membuatku takut karena aku bahagia melihat papa dan mamaku tidak bertengkar. Sampai kemudian papa memanggilku dan berkata: “Erland, besok kamu dan mama ke Jakarta ya, ke tempat tante Vivi.”

“Tapi Erland besok sekolah, pa,” jawabku.

“Untuk sementara kamu libur, sampai suasana aman.”

“Sebentar saja, kan? Erland takut ketinggalan pelajaran, pa.”

“Kalau begitu sekolahmu kita pindah saja disana tahun ini,” sahut papa.

“Apa…? Erland nggak mau ah…. Erland maunya sama papa, sama teman-teman Erland,” aku meradang.

“Erland, kondisi di Lombok kurang aman. Mama dan papa khawatir terjadi apa-apa dengan kamu. Sekolah juga sering libur, papa mama bekerja. Nggak ada yang jaga kamu,” seru mama lirih sambil menahan air mata.

“Nggak! Erland maunya sama mama, sama papa, Erland nggak mau ke Jakarta. Nggak ada teman Erland di sana,” air mataku mulai menetes.

Dengan lembut mama membujukku, “Kan disana ada dua abangmu, Erland nggak akan kesepian.”

“Erland nggak mau, ma…,” Air mataku semakin deras. “Maunya di sini sama papa mama.”

Tiba-tiba papa berdiri lalu memalingkan wajahnya, dengan bergetar ia berkata, “Ini sudah keputusan papa mama. Besok kamu harus berangkat. Urusan sekolah, papa serahkan ke tantemu,” Lalu papa bergegas meninggalkan kami.

Aku ingin berteriak dan berontak tapi urung karena sekelebat aku melihat air mata mengalir di pipi papa. Belum pernah aku melihat papa menangis, pastinya ini berat buat papa. Seketika aku pasrah dan menangis di pelukan mama.

Lampu tanda sabuk pengaman kembali dimatikan. Aku berdiri dan berjalan ke toilet untuk buang air kecil sambil meregangkan otot-ototku yang kaku. Di dekat toilet kulihat sepasang suami istri sibuk melerai kedua anaknya yang berebut gadget. Aku teringat kedua abang sepupuku di Jakarta, hampir tak pernah aku melihat mereka bertengkar. Mereka banyak membantuku dalam pelajaran bahkan aku diajarkan main gitar. Aku tersenyum mengingat gitar yang aku titipkan di bagasi, kenang-kenangan dari Bang Ge sepupu tertuaku. Sampai di Lombok nanti akan kutunjukkan pada papa mama. Selama ini aku tak pernah memberitahu mereka kalau aku sudah bisa bermain gitar. Papa mama pasti senang dan ini akan jadi kejutan buat mereka. Aku tak sabar ingin segera menginjakkan kakiku di Lombok setelah setahun aku mengungsi ke Jakarta.

“Bro, kalau bosan di Lombok, lu ke sini aja. Kamar kita siap nampung lu. Tapi kali ini lu tidur di bawah ya, gue yang di atas. Pegel juga nggak pakai springbed hehehehe…,” seloroh bang Yo, sepupu keduaku. Abangku yang satu ini sepertinya mirip dengan papaku. Sekarang dia kelas 9 dan sejak kelas 8 dia sudah merintis online shopping. Kadang-kadang aku ditraktir bang Yo atau ia memberikan uang dengan catatan untuk ditabung.

Aku ingat kata-kata bang Yo, “Punya duit hasil keringat sendiri beda rasanya, lu ingat kata-kata gue nih ya kalo lu udah punya penghasilan sendiri. Bangga dan puashhh…,” katanya sambil mencium ATM-nya.

Aku baru sadar kalau mereka banyak berkorban untukku. Ditengah-tengah kesibukan sekolah dan kegiatan lainnya mereka selalu bergantian mengajariku karena terus terang pelajaran sekolah di sini lebih berat dari pada Lombok. Awalnya aku banyak tertinggal tapi berkat kedua abangku ini perlahan-lahan aku bisa mengikuti.

“Erland, baik-baik di Lombok, ya…. Jangan lupa telepon tante dan om. Besok-besok kalau libur main ke sini lagi ya!” Tante memelukku berusaha menahan tangis.

“Iya tan, makasih ya buat semuanya.”

Aku kembali ke tempat duduk, kulihat awan putih menari-nari di luar sana. Tak lama kemudian pilot mengumumkan pesawat akan segera mendarat dan lampu tanda sabuk pengaman dinyalakan. “Papa mama, Erland pulang,” batinku sambil tersenyum. Tiba-tiba ada khawatir yang menyeruak dalam benakku. Teringat tahun lalu seiring dengan gempa Lombok ada gempa lainnya di rumahku, papa mama akan bercerai. Selama ini kalau papa mama video call kami tak pernah membahas masalah ini, walau hatiku bertanya-tanya. Ini menjadi doaku setiap malam agar gempa di Lombok segera berakhir dan papa mamaku bersatu kembali.

Pesawat mendarat di Praya dengan mulus, tak ada yang berubah dengan bandara ini sejak ku tinggal setahun yang lalu. Keluar dari pesawat kuhirup udara sebanyak-banyaknya seakan-akan paru-paruku ingin menelan semua udara yang ada, udara yang sama yang kuhirup ketika aku pertama kali menghirup di dunia ini.

Kunyalakan gadgetku dan kulihat beberapa notify dari papa. Kuhubungi papa untuk mengabarkan pesawatku sudah landing. Tak sabar aku bertemu mereka, setelah beres dengan urusan bagasi aku berlari keluar bandara. Disana kulihat papa berdiri dengan gagahnya, kupeluk erat papa dan tak terasa air mataku menetes, Sekejap aku sadar, mama tak ada di dekat papa. Hatiku sedih tapi aku berusaha menutupinya. “Oh Tuhan…,” Hatiku marah, kenapa Kaupisahkan kedua orang tuaku?

Papa mengajakku ke tempat makan, aku menolak dengan alasan tidak lapar. Bagaimana aku bisa makan kalau orang tuaku berpisah? Namun papa tetap menggiringku ke tempat makan sambil bersiul-siul. Lalu disana kulihat mamaku, ya mamaku, tidak salah lagi, benar itu mamaku. Tidak seperti yang aku bayangkan perut mama besar seperti membawa drum band.

Whats? Wanita itu benar mamaku, ia tersenyum sambil merentangkan tangannya. Aku tertawa, menangis, dan berlari memeluk mama.

“Sebentar lagi kamu akan punya adik perempuan? Mau kan ade perempuan?” bisik mama di telingaku.

Aku tidak sanggup menjawab, hanya mengangguk sambil memeluk mama. Aku tidak peduli kalau orang-orang menertawakanku karena cengeng. Aku bersyukur buat jawaban atas doa-doa yang Tuhan berikan untuk keluargaku plus bonus calon adik yang tidak pernah aku bayangkan. Terngiang kembali kata-kata papa, namaku Erland, Rajawali perkasa, dan aku akan menjadi Rajawali yang siap menjaga adik kecilku. Aku akhirnya menyadari bahwa Tuhan memakai twins earthquake untuk membentukku menjadi Erland, Rajawali perkasa.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yan penuh harapan.”

 

By: ovs-PKW